Sedih bacanya! Inget waktu itu pernah di milis aku ribut sama ibu2 yang kekeuh klo hak seorang ibu utk kasih ASI ke anaknya. Sedikit yang kuingat lagi gini siy kurleb:
"Terserah ibunya dong mo kasih ASI ke anaknya ato engga. Jangan melulu disalahin ato dipojokin. Kalau ibunya ngerasa repot/risih ngasih ASI trus prefer Formula ya jangan salahin ibunya!"
Wadooohh!
Kalau ibunya ajah dah ngerasa seperti itu..gimana nasib si anak ya? Klo ASI nya ga keluar mungkin beda kasus lagi..lah kalau emang ASI nya ada dan banyak trus ga mau ngasih juga..ya kasiannn anaknya towh.. Huks...
tapi yah, mo gimana ya MOm. Semua emang kembali ke kita para Ibu. Gimana cara pandang kita terhadap ASI itu sendiri. Apakah kita mau berrepot-repot memerah ASI dimanapun kita sempat ketika sedang tidak bersama si buah hati? Menenteng Cool Box di dalam kendaraan umum (duh tadinya saya sudah lumayan senang melihat sekarang-sekarang ini sudah banyak yang melek ASI dan banyak ibu2 yang menenteng2 Cool Box -meski entah itu isinya ASI ato lunch nya dia siyy) ;p
Kepada Ibu-ibu pejuang ASI: JIA YOU! (SEMANGATTT!!)
Semoga kita akan bisa terus-menerus membagi ilmu kita ke orang-orang terdekat disekitar kita. Untuk Bayi-bayi di masa depan dengan gizi yang lebih baik! AMIN
Selamat membaca..
--sorrii pjg prolognya ---
-
ASI Eksklusif Ditinggalkan
Selasa, 01 Juli 2008 00:01 WIB
JAKARTA (MI): Kasus gizi buruk pada anak Indonesia lebih disebabkan pada rendahnya pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif. Faktanya pemberian ASI eksklusif pada bayi di Indonesia selama enam bulan terus menurun dibandingkan pemberian susu formula.
Menurut data yang dikeluarkan Badan PBB untuk anak (UNICEF) yang dikeluarkan dalam lima tahun sekali, disebutkan bayi di Indonesia yang menikmati ASI eksklusif selama 6 bulan hanya 7,2% pada 2007. Sedangkan bayi yang menggunakan susu formula mencapai 27,9%.
Kecenderungan jumlah bayi yang mendapatkan ASI ekslusif di Indonesia terus menurun. Sebelumnya pada 1997 bayi dengan ASI eksklusif sebanyak 7,9% dan pada 2002 menurun menjadi 7,2%.
Sedangkan pemberian susu botol pada bayi terus meningkat. Pada 1997, bayi yang diberi susu formula sebesar 21,1%, kemudian pada 2002 turun menjadi 16,7%, kemudian meningkat lagi pada 2007 sebesar 27,9%.
Menurut Anne H Vincent, Kepala Seksi Nutrisi dan Kesehatan UNICEF dalam kunjungannya di kantor Media Indonesia kemarin, kondisi tersebut sangat memprihatinkan.
"Pemberian ASI eksklusif merupakan yang terbaik, bukan pemberian susu formula. Ada kalanya ibunya takut anaknya nanti bodoh, apabila tidak diberi susu formula. Semua ini karena ketidaktahuan masyarakat," kata Vincent.
Ia mencontohkan di Yogyakarta, terdapat tujuh kecamatan yang paling parah akibat gempa. Pada saat itu perusahaan susu formula menyumbangkan susu formula untuk balita. Yang terjadi diare pada balita meningkat 6 kali dibandingkan balita yang tidak minum susu formula.
Tidak sedikit rumah sakit atau puskesmas jadi ajang promosi susu formula. Ibu-ibu yang melahirkan anak, langsung disodori susu formula, bukan diberikan ASI pada satu jam pertama saat bayi lahir.
Sedangkan payung hukum untuk melindungi bayi-bayi dari cekokan susu formula masih lemah. Pemerintah belum memberikan sanksi tegas pada perusahaan susu formula yang memberikan produknya pada bayi saat pertama kali dilahirkan.
Cegah kematian
Dalam kesempatan yang sama pakar gizi UNICEF Anna Winoto menjelaskan, dari hasil penelitian ASI eksklusif di 42 negara seperti dimuat oleh The Lancet edisi 2003, disebutkan bahwa pemberian ASI eksklusif bisa menyelamatkan 1,3 juta balita.
"Ternyata untuk menyelamatkan bayi dari kematian, bukan pemberian vitamin A, pemberian kelambu supaya mencegah malaria, atau intervensi lainnya, melainkan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan," jelas Anna.
Bila dirujuk pada kasus di Indonesia, ASI eksklusif bisa menyelamatkan 30 ribu bayi. Penelitian lain yang dilakukan WHO dan UNICEF pada 2006 di 6 negara yakni Brasil, Ghana, India, Oman, Norwegia, dan Amerika Serikat bisa disimpulkan pemberian ASI pada satu jam pertama saat bayi dilahirkan akan mengurangi kematian bayi sebesar 22%. "Apabila itu diterapkan di Indonesia, sebanyak 21 ribu bayi bisa selamat."
Dan dari hasil penelitian itu, bayi-bayi di enam negara yang diberi ASI eksklusif memiliki tingkat pertumbuhan yang sama. "Dengan kata lain, anak-anak Indonesia bisa tumbuh sejajar dengan anak-anak di negara lain, karena pada dasarnya telah memiliki gizi yang cukup lewat pemberian ASI eksklusif." (Nda/H-1)
Sumber : Media Indonesia - Edisi Cetak Pagi - Humaniora
salam,
http://asiku. wordpress. com/