The Syanditra : Syamsul Windi Putra

Say Cheeseeeeee!

Photo AlbumWhen Passion Doesn’t Pay Your Bill!Jan 21, '08 3:48 AM
for everyone
Thursday, 03 January 2008

Pertengahan November 2007, saya bertemu dengan Sekar
Pandan Wangi – Program Director Hard Rock FM.
Hasilnya, kami punya daftar topik untuk 2008.

Setelah pilih-pilih, kami sepakat, tahun baru harus
dimulai dengan ngegas!
Jadilah bintang tamu pilihan kami untuk edisi perdana
Financial Clinic adalah : my personal career coach
Rene Suhardono.

Topiknya pun nyebelin : When Passion Doesn’t Pay Your
Bill!
Jadi ceritanya begini. Sering banget saya menerima
email dari teman-teman yang bunyinya kurang lebih
sebagai berikut :

”Wina, sekali-sekali bikin dong topik untuk gaji
kecil. Contohnya melulu untuk gaji yang besar-besar.”

Lho.... jadi judes banget deh kalau ada yang kirim
email begitu.
Reaksi pertama saya adalah : I’m a financial planner.
I’m not a career coach. I don’t care how much money
you make, I care about how much is left after all your
spending and how I can work with that kind of money
towards investments.

So…
Are you happy with your job?
Are you happy with your salary?
Are you happy with life itself?

Orang dengan attitude : gaji gue kecil… akan terus
jadi begitu…
7 tahun kemudian, gaji naik 7 x lipat pun, orang ini
akan terus bilang : gaji gue kecil… kan sekarang anak
gue 3.
7 tahun berikutnya, gaji naik lagi 5 x lipat, orang
ini akan bilang : gaji gue kecil... dengan jabatan
direktur, mana cukup gaji sebegitu, anak gue kan udah
kuliah, biaya kuliah mahal, bensin naik, listrik
naik...

I cannot help you if you don’t want to help yourself.
Seorang financial planner harus ketemu angka. Angka
ini yang harus bicara, apa iya gajinya kecil? Apa iya
gajinya gak cukup? Atau jangan-jangan ada pengeluaran
gak penting yang membuat gaji ini berasa gak cukup?
Atau jangan-jangan ada kebiasaan buruk yang membuat
gaji ini habis terus?

Biasanya saya akan lempar body ke Rene.
Tentu saja Rene akan ngakak habis-habisan dan dengan
rese bilang begini : I’m a career coach. I’m not a
financial planner.

Tuh kan…
Your money, your life, your responsibility!

TIPS dari WINA supaya gak merasa kekurangan melulu :

RINCI PENGELUARAN
Pekerjaan paling menyebalkan dalam financial planning
adalah menyusun budget dan lebih parah lagi
membandingkannya dengan pengeluaran aktual. Tapi kalau
merasa kekurangan ini tetap harus dilakukan.


BUKTIKAN!
Bukan lagu Dewi Sandra, tapi ayo buktikan kalau memang
gaji kita kurang. Hasil memerinci pengeluaran tadi
harus dapat menunjukkan di mana kita kekurangan.

Beberapa contoh lucu :

Si gaji 4 juta, merasa gaji kecil dan minus melulu.
Katanya karena harus menopang hidup keluarga. Hasil
rincian anggaran menunjukkan bahwa 2 juta habis untuk
pengeluaran ibu. Oklah 50% adalah angka yang besar.
Tetapi dari 2 juta sisanya, 500 ribu untuk fitness,
500ribu untuk vitamin, 500ribu untuk internet dan TV
kabel, 500ribu lagi untuk pengeluaran.

Si gaji 10 juta merasa kekurangan. Padahal untuk
menyiapkan biasa masuk TK anaknya cuma 1 bulan lagi...
ternyata cicilan LCD TV itu Rp 1 juta per bulan, tapi
tabungan untuk TK anaknya cuma Rp 300ribu / bulan.


NAIKKAN PENGHASILAN, TURUNKAN PENGELUARAN
Iya iya tau, ini emang gak gampang prakteknya.

Turunkan pengeluaran – artinya kita periksa tuh daftar
pengeluaran dan cek mana yang gak masuk akal. Hp
800ribu per bulan apa iya? Premi asuransi 2 juta per
bulan, tapi Uang Pertanggungannya 50 juta, apa iya?
Makan di luar setiap hari apa iya? Minimum payment
kartu kredit kok sampai Rp 3 juta per bulan ya?

Sudah semuanya dihemat – gak seru banget ya disuruh
hemat – sekarang gimana?
Biasanya dengan ngeyel akan ada yang bilang begini :
Apalagi yang mau dihemat?
Sekarang artinya penghasilan yang harus dinaikkan.

Banyak caranya kok.

Istri boleh kerja (heheheh... viva feminista. Lo pikir
Tante Wina boleh kerja lagi kenapa? Gaji Om Don naik
terus juga, kalau keinginannya banyak kan gak cukup
untuk investasi?)
Cari kerja sampingan.
Buka warung.
Menyiapkan aset yang dapat menghasilkan : Bisnis,
Properti, Surat Berharga
Jadi penulis.
Jadi dosen honorer.
Jadi editor buku.
Jualan asuransi (heheheheheheheheheh....)
Jualan panci presto cooker.
Jualan kaos dengan sablon lucu.
Ambil barang di Tanah Abang dan bawa ke kantor untuk
dijual.
Ambil barang dari teman dan bawa ke kantor untuk
dijual.

Tahu gak, dikasih daftar hal bisa dilakukan untuk
menambah penghasilan, jawaban negatifnya bisa seperti
ini :

Duh kerja sampingan gimana, pulang kantor udah sore
banget.
Yah gak level... biasa ke mall kok disuruh jaga
warung.
Aset? Perlu modal dong. Lo bisa minjemin gak? Gue kan
gak punya duit.
Jadi penulis? Gak bakat.
Jadi dosen? Gak punya S2.
Jualan???? Oh My GOD, never!
Ke Tanah Abang? Apa itu Tanah Abang?

Tuh kan... alasan sih ada terus.. kapan majunya?

Kira-kira Rene akan punya komentar apa ya...
Si gaji 1 juta merasa kekurangan...
Lho kan lagi magang? Tempat lain magang itu gak
dibayar lho!
Memangnya kamu punya kemampuan apa supaya gajinya gak
1 juta?
Memangnya kalau dikasih gaji Rp15 juta lo bisa kasih
kontribusi apa sama perusahaan?


Hasil cela-celaan dan diskusi dengan Rene menunjukkan
kesimpulan sbb :

Always seek for your passion – kalau sampai belum
ketemu jangan kapok (Wina menemukan passionnya setelah
5 tahun, Dondi menemukan passionnya setelah 7 tahun…
jadi memang gak bisa ketemu dalam sekejap)
Develop your career – not just a job
Gaji gak datang dari langit, perhatikan proses
bagaimana terjadinya gaji itu sendiri dalam
perusahaan. Kalau ingin gaji kita naik, berarti
perusahaan juga harus punya income lebih besar.
Makanya fokus kerja kita harus juga memberikan
kontribusi signifikan pada peningkatan penghasilan
perusahaan.
Contoh yang sempat seru dibahas : bilang sama boss
kalau kamu punya ide-ide cemerlang untuk meningkatkan
penghasilan perusahaan. Jangan lupa tanyakan reward
apa yang kamu dapatkan kalau ide itu bisa berhasil
diimplementasikan. Kalau sampai ternyata rewardnya gak
berasa – paling tidak kamu sudah berhasil
mengembangkan karir kamu, jadi bisa ’shop around’ ke
perusahaan lain dengan menunjukan achievement tadi :
berhasil meningkatkan penghasilan perusahaan. This is
more valuable than asking for a raise.
Belakangan ini Rene malah sering bertemu executive
yang bersedia pindah kerja dengan gaji pokok lebih
kecil, tetapi dengan gaji variabel yang berpotensi
memberikan hasil lebih besar.
Terakhir, tukar menukar jargon antara Wina dan Rene :
Tujuan lo apa?
Dana Darurat lo udah berapa seh?
You eat what you kill.
Love your career not your job.


Masih ada yang berani bilang gajinya kekecilan?
Biasanya ada aja yang masih bunyi : bagaimana dengan
orang yang bekerja sebagai tukang becak?

Well, are you a tukang becak?
Do you make Rp 10.000 a day and spend it all in food?
If you do, you need a break. You don’t need financial
planning or career coaching. You need to be empowered!


Makanya ada zakat, sedekah, charity, perpuluhan atau
apapun namanya yang membuat semua penghasilan kita itu
ada bagiannya yang menjadi hak orang yang lebih gak
mampu dibandingkan kita.

Or the wonder of microfinance. Check this brilliant
program : www.kiva.org. CNBC pernah meliput juga ke
lokasi pinjaman KIVA. Sakit jiwa, awalnya saya tidak
percaya. Tapi ternyata ada dan terjadi di dunia nyata.
Supir taksi sepeda di Afrika menerima pinjaman dari
KIVA untuk memulai restorannya (baca : warung jelek
dari terpal di pinggir jalan). Sehingga si supir taksi
sepeda ini bisa memperbaiki hidupnya, pindah ke rumah
yang pintunya besi (sebelumnya gak punya pintu) dan
menyekolahkan anaknya.

Microfinance is lending to the poor. It is about
creating big breaks. It is the business of creating
champion out of noone. (quotes taken from
www.kiva.org). By the way, this is Dondi’s passion. He
is a credit specialist, working as head of risk
management for a multi finance company. He is working
very hard to make it into the gate of microfinance. He
is improving his knowledge and skills. So when he
meets the opportunity, he will be embracing it.

Now don’t tell me that you are ‘orang gak punya’
dengan gaji sejuta, HP Nokia seri N dan
nongkrong-nongkrong di mall… I’ve seen too much of it.
You gotta come up with better excuses!

You ARE Responsible For Your Own Finances!
Ligwina Hananto

ladder_1.gif
  


roelworks wrote on Jan 21
Kenapa juga postingnya dibagian photos...bukan di blog? gambarnya jadi sia-sia ...
windiaja wrote on Jan 21
yee...ga nyimak niy...
dikantorku ga bs siyyy..bagian blognya..tau tuwh tiap mo nulis diblog pastiii bermasalah
entah tampilannya jadi dempet2 ato apalah..makanya malesss
jadilah nulis disini..hehehe..fotonya juga apa ajah..asal ajah..hihihihihi
roelworks wrote on Jan 21
tampilannya jadi dempet2?copasnya yang bener kaleeee
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help