Papaku bernama Henry Winarto, seorang
yang berbakat, beliau tidak pernah mengenyam bangku kuliah, tetapi dengan
kerja kerasnya berawal dari seniman jalanan di Pasar Baru tahun 70-an beliau
mulai menapaki karirnya di Film bersama Sutradara-sutradara terkenal. Beliau
pernah menjadi Art Director dalam film Koboy Insyaf-nya Benyamin S; atau
juga Film Dorce dalam Dorce Sok Aksi; Film Kuntilanak; Film-film lain yang
saya sendiri tidak hafal satu-persatu. Karirnya beranjak naik saat mulai
masuk ke RCTI, levelnya terhenti pada Supervisor karena tidak memiliki
ijasah Sarjana, kemudian pensiun diumurnya yang 50thn. 50 thn baginya masih
terlalu muda untuk pensiun, tapi apa daya beliau tidak bisa memaksakan
peraturan kantor. Lalu beliau mulai beralih ke Sinetron. Tapi tidak lama
kemudian berhenti sama sekali. Entah baginya terlalu melelahkan untuk bekerja
di Sinetron. Kalau untuk sekedar FTV beliau masih menyanggupi. Tapi tawaran
semakin menyusut akhirnya berhenti sama sekali. Sekarang tidak ada kegiatan
yang bisa dilakukannya selain bermain bersama cucu-cucunya di rumah, atau
sekedar bebenah di rumah, atau kutak-kutik mobil. Saya rasa, jiwa seninya
masih berkobar, hanya saja tidak ada yang mau memakainya lagi. Ya, papaku
sudah tidak muda lagi.
Peran papa buat saya pribadi asli berbeda-beda
sejalan dengan berjalannya waktu.
Dulu waktu saya masih kecil, saya ingat
sekali pernah dicelupin ke bak mandi karena ngadat ga mau mandi dan berangkat
ke sekolah [orang tua jaman dulu memang terkenal sadis, hihihi], atau saat
gesper besar diacungkan ke atas untuk menakut-nakuti aku yang tidak juga
mau beranjak ke tempat tidur untuk tidur di malam hari [sekarang aku yang
kejadian ngejar-ngejar Salik untuk tidak tidur larut malam]. Beliau amat
sangat disiplin
Saat SMP papa buat aku seperti pahlawan,
umm atau lebih ke tempat aku berlindung. Kenapa? Karena saat itu hubungan
antara aku sama adik laki-lakiku dan kakak perempuanku amat sangat tidak
sehat. Selalu diwarnai kecemburuan dan kompetisi yang kurang sehat. Maklum,
SMP kan saat-saatnya jadi pembangkang [rebellious gitu dey ceritanya].
Padahal dulu aku bisa dibilang jarang ketemu sama mereka [adik-kakakku.red],
karena aku tinggal di rumah nenekku dari kelas 1 SD s.d 3 SMP. Papaku selalu
saja membela aku saat mereka menyerang aku, beliau selalu mencoba menyenangkan
aku bila melihat aku disisihkan oleh mereka entah dengan sekedar membuatkan
aku semangkuk mie instant, memotongkan buah kesukaanku atau membuatkan
es sirup segar. Dan itu benar-benar membuatku merasa terselamatkan. Ada
rasa senang dimana ada yang mengambil sisiku disaat yang lain tidak.
Masa SMA papa ga terlalu terlihat malah,
entah karena beliau mulai sibuk di kantornya. Tapi saat masa aku kuliah,
beliau amat-sangat mendukung aku dalam segala hal. Bahkan saat aku minta
untuk diijinkan kos di daerah Depok. Beliau bersedia membantu mensetting
alat-alat elektronik seperti stop kontak untuk masak beras di dapur. Atau
untuk lampu belajarku. Bagiku, meski beliau amat sangat jarang berbicara
[benar-benar amat sangat jarang berbicara] dengan apa yang dikerjakan bagiku
itu sudah sangat cukup. Beliau sebagai sang pendukung.
Saat aku bekerja dan sudah berumah tangga
tiba-tiba satu hal terjadi, hal ini membuat semua gambaran tentang papa
menghilang begitu saja. Tidak cuma aku, tapi semua merasakan hal yang sama,
ya adik dan kakakku. Semua hal baik yang pernah dia lakukan serasa hilang
tersapu angin. Dan ini berlangsung cukup lama. Sampai saya lihat raut wajahnya
yang terlihat sangat tua dan lelah. Beliau memang sudah pensiun dari pekerjaannya.
Tidak banyak yang bisa dia lakukan. Uang pensiun pun sudah raib entah kemana
disebabkan oleh dirinya sendiri yang berdampak pada keuangan keluarga.
Tidak adil rasanya dimasa tuanya, dengan satu kesalahan besar yang telah
dilakukannya maka kita menghukumnya terus-menerus. Bagaimanapun, papa adalah
manusia.
Saya mulai mengajak adik dan kakak saya
berbicara, mereka pun akhirnya mengerti dan mau mencoba melihat kembali
sisi lain dari papa. Keadaan berangsur-angsur berubah, meski kenangan pahit
itu tetap ada kita mencoba melihat ke depan. Papa ga cuma sekedar Papa
buat aku, dia sekarang adalah Opa dari anak-anakku. Mereka sangat butuh
mendapatkan kasih sayang dari Opa nya [juga Oma nya]. Melihat tatapan tulus
dan sayangnya kepada anak-anakku rasanya kenangan pahit itu pun bisa hilang
dengan mudah.
Semua orang bisa berbuat salah, bahkan
orang tua kita sendiri. Dalam hal ini papa saya. Saya bersyukur masih memiliki
beliau sebagai papa saya. Rasanya tidak banyak yang masih memiliki keluarga
lengkap. Saya selalu berusaha untuk bisa mencarikan pekerjaan untuk papa
saya begitupula kakakku, beliau tidak bisa diam, selalu mau mengerjakan
hal yang dapat menghasilkan uang untuk membantu keuangan keluarga bahkan
untuk sekedar menulis nama pada setiap lembar sertifikat [bakat seni mengalir
deras dalam diri ayahku, tapi tidak satupun anaknya yang mendapat secuil
bakat beliau, sayang yaa..]. Beliau sudah tidak muda lagi, sudah hampir
menginjak 60 tahun. Beliau masih sanggup melakukan pekerjaan yang mengharuskannya
menyupir selama hampir satu hari penuh. Beliau pekerja keras. Beliau mau
berbuat apa saja demi istri dan anak-anaknya. Saya rasa, itu sudah lebih
dari cukup untuk harapan seorang anak terhadap orangtuanya.
partisipasi event: http://bundaelly.multiply.com/journal/item/109
"Being deeply loved by someone
gives you strength, while loving someone deeply gives you courage"
~ Lao Tzu